Se yogjanya, ketika akad di deklarasikan
Dan di malam hari setelah dirimu dan istrimu
Menunaikan hak
Hak sebagai pakaian bagi istrimu
Dan hak dirimu merasakan kenikmatan surgawi
Dari istrimu
Maka jangan terlena
Maka jangan terlupa
Dalam hanyut
Atau romantisme sesaat
Sebagai Pengantin Baru
Justru disanalah
Peta mulai di bentangkan
Tujuan mulai direncanakan
Dan cita-cita di gelorakan
Mau dibawa kemana kapal ini
Mau di suasanakan seperti apa rumah tangga ini
Di saat itulah komunikasi di bangun
Dan komitmen di sepakati
Agar Rumah Tangga tak berlayar tanpa arah
Agar suasana rumah suhunya bisa di kondisikan
Agar Cinta selalu berkembang
Mekar
Mewangi
Dan tak layu
Disinilah Peranan Suami Memaikan akalnya
Untuk membingkai rumah Tangga
Disinilah Peranan Istri memainkan Perasaannya
Untuk memperindah suasana rumah tangga
Jadi terlalu sempit
Jika Menikah hanya focus pada kenikmatan seksual
Setelah puasa lama…
Jadi terlalu sempit
Jika Menikah sebagai kemenangan, berhasil menikahi
Orang yang kau cinta
Jika itu yang terjadi
Maka rumah tanggamu tak akan mampu
Menahan badai atau topan yang menerjang
Jika itu yang terjadi
Cinta akan luntur, seiring usia pernikahanmu…
Sahabatku
Ketika peluh keringat mengucur
Di hangatnya malam pengantin
Janganlah engkau tertidur
Tapi tatap mata Istrimu
Katakan padanya
“hari ini engkau sudah halal menjadi Istriku…
“aku ingin rumah tangga ini sampai ke Jannahnya kelak….
“Engkau harus tahu…
“Engkau tidak menikahi malaikat yang tak punya salah
“dan aku tak menikahi bidadari yang sempurna….
“duhai cintaku……!
“Maka ingatkanlah aku, jika aku melalaikan tugasku sebagai suami dan ayah…
“duhai cintaku…!
“jangan Marah…jika ku melihat ada yang janggal pada dirimu, dan aku menegurmu…”
“Ini semua demi cita-cita kita ke surgaNya…
“Bersediakah dirimu Cinta…”
Tataplah matanya
Dan ia pasti akan tersenyum dan mengedipkan matanya
Itu tanda ia setuju……
Setelah itu tariklah dirinya kedalam selimut
Dan silahkan lanjutkan indahnya ke nikmatan surgawi
Yang engkau memang halal merasakannya
Hingga desah nafasmu
Nafas istrimu
Dilirik senyum oleh Bulan dan Bintang
Di langit sana
Inilah Komitmen
Dari Bilik Sederhana
Yang Alloh ridho akan semuanya
Allohu Akbar !!!
Sabtu, 08 Oktober 2011
Meminang Akhwat
Dimanapun, akan selalu begini
wanita itu jika sudah tersentuh dengan nilai-nilai Islam
lalu terintegrasi di alam pikiran, di relung akal
dan menjadi karakter
maka ia akan Menjadi Militan
Lebih cepat dari laki-laki
yang memilih menggunakan nalar logikanya
sebelum suatu manhaj pergerakan
memayungi aktivitas dakwahnya
disinilah kita lihat
rasionalitas jumlah kader laki-laki dan wanita yang tak sama
wanita lebih dominan.
Tapi di sisi lain
jika ada satu hal, atau aspek Tarbawinya belum matang
maka ia akan mudah berbalik arah
pindah...
atau meluncur kebawah
dalam hal ini kita sebut futur
cepat militan dan cepat futur
tapi saya tidak ingin membahas hal ini
^_^
saya hanya ingin mengingatkan
kader-kader ikhwan
yang belum menikah...
yang sibuk dengan dunia lajangnya
sesungguhnya
engkau memperlama pernikahanmu
maka akan secara tidak langsung
menjadi beban dalam jamaah ini..
iya
BEBAN...!!
Karena betapa banyak Kader akhwat yang terbina
yang menunggu dalam diam
yang menangis dalam sepi
yang berdoa dengan guncangan tubuh
mengiba...
mengharap...
dirimu sekedar menyampaikan proposal pernikahan
itu sudah membuat mereka bahagia
dan mereka akan menguatkan sisi lain dari ikhtiar
yaitu DOA....
Mereka berpacu dengan umur
yang tak mau mundur
sementara dirimu menggunakan Hujjah
seribu satu hujjah...
Kadang saya menyebut ikhwan-ikhwan ini
adalah
"Mafia Hujjah"
Menggunakan Hujjah atau dalil
ketidakberanian
memang saya memahami
ada banyak alasan yang jika di cerna
masuk di akal
tapi bukan itu membuatmu menunda
tapi mensinergikan
agar menikah terlaksana
lalu
kepentinganmu juga terpenuhi
seiring sejalan
dan berkorelasi
Wahai Ikhwan...!
Menikahlah...!!
Nikahi akhwat-akhwat PKS itu....
nikahi Perempuan yang dirinduKan Surga
itu....
agar tak ada yang menangis
dalam Gegap Gempita Dakwah....!!
wanita itu jika sudah tersentuh dengan nilai-nilai Islam
lalu terintegrasi di alam pikiran, di relung akal
dan menjadi karakter
maka ia akan Menjadi Militan
Lebih cepat dari laki-laki
yang memilih menggunakan nalar logikanya
sebelum suatu manhaj pergerakan
memayungi aktivitas dakwahnya
disinilah kita lihat
rasionalitas jumlah kader laki-laki dan wanita yang tak sama
wanita lebih dominan.
Tapi di sisi lain
jika ada satu hal, atau aspek Tarbawinya belum matang
maka ia akan mudah berbalik arah
pindah...
atau meluncur kebawah
dalam hal ini kita sebut futur
cepat militan dan cepat futur
tapi saya tidak ingin membahas hal ini
^_^
saya hanya ingin mengingatkan
kader-kader ikhwan
yang belum menikah...
yang sibuk dengan dunia lajangnya
sesungguhnya
engkau memperlama pernikahanmu
maka akan secara tidak langsung
menjadi beban dalam jamaah ini..
iya
BEBAN...!!
Karena betapa banyak Kader akhwat yang terbina
yang menunggu dalam diam
yang menangis dalam sepi
yang berdoa dengan guncangan tubuh
mengiba...
mengharap...
dirimu sekedar menyampaikan proposal pernikahan
itu sudah membuat mereka bahagia
dan mereka akan menguatkan sisi lain dari ikhtiar
yaitu DOA....
Mereka berpacu dengan umur
yang tak mau mundur
sementara dirimu menggunakan Hujjah
seribu satu hujjah...
Kadang saya menyebut ikhwan-ikhwan ini
adalah
"Mafia Hujjah"
Menggunakan Hujjah atau dalil
ketidakberanian
memang saya memahami
ada banyak alasan yang jika di cerna
masuk di akal
tapi bukan itu membuatmu menunda
tapi mensinergikan
agar menikah terlaksana
lalu
kepentinganmu juga terpenuhi
seiring sejalan
dan berkorelasi
Wahai Ikhwan...!
Menikahlah...!!
Nikahi akhwat-akhwat PKS itu....
nikahi Perempuan yang dirinduKan Surga
itu....
agar tak ada yang menangis
dalam Gegap Gempita Dakwah....!!
Bekerja Untuk Indonesia
Kita sedang meletakkan pondasi kokoh untuk bangunan besar yang merupakan
mega proyek dakwah. Peletakan dasar pondasi setiap bangunan adalah
tahapan paling krusial dan sulit dalam proses pembangunan sebuah
bangunan. Sedangkan bangunan yang hendak dibangun itu adalah daulah
islamiyah, khilafah islamiyah. Tetapi kita tidak menginginkan daulah
atau khilafah yang sekedar simbol tanpa substansi. Juga bukan daulah
atau khilafah rapuh yang sekali berdiri kemudian dengan mudah dirobohkan
kembali, diporakporandakan musuh-musuh Islam.
Daulah dan khilafah itu haruslah islamiyah, dengan segala makna yang ada pada kata Islam. Itu berarti sebuah tata dunia baru yang rahmatan lil 'alamin. Itu berarti peradaban yang kuat untuk mempertahankan eksistensinya dari segala upaya destruktif yang hendak menghancurkannya. Karenanya, ia harus dibangun dari individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintahan yang sehat, kokoh dan tangguh.
Berangkat dari pemikiran inilah, maka qudwah (teladan) di jalan dakwah menjadi sangat urgen. Untuk peletakan pondasi itu kita membutuhkan individu muslim teladan, rumah tangga muslim teladan dan masyarakat muslim teladan sehingga pemerintahan Islam teladan berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh, kemudian meluas di level seluruh umat Islam. Setelah itu, berdirilah pemerintahan-pemerintahan Islam yang bersedia masuk dalam perdamaian dengan pemerintahan Islam lain seperti dirinya dalam rangka membentuk Daulah Islamiyah.
Syaikh Musthafa Masyhur juga menjelaskan berbagai profesi agar menjadi teladan. Diantaranya adalah guru/dosen muslim teladan, wartawan muslim teladan, penulis muslim teladan, dokter muslim teladan, praktisi hukum muslim teladan, pedagang teladan, dan karyawan teladan.
Sebelum menjelaskan karakter-karakter teladan pada tiap subyek di atas, Syaikh Musthafa Masyhur mengawali dalam bukunya dengan "teori keteladanan." Bahwa manusia yang diberi nikmat indra dan akal oleh Allah SWT bisa mendapatkan petunjuk dan keteladanan. Dan, umunya setiap dakwah dan seruan akan lebih efektif ketika ada keteladanan aplikatif. (qudwah amaliyah).
Teori lain yang ditulis di awal itu adalah kebiasaan orang lemah meniru orang kuat. Teori ini sejalan dengan teorinya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Sepeti anak kecil yang meniru orang dewasa, demikianlah orang yang lemah pendirian akan meniru orang-orang kuat; sama halnya negara-negara lemah dan terjajah meniru negara-negara besar dan maju. Ketika yang dapat ditangkap oleh orang-orang berjiwa lemah itu adalah keburukan saja, maka mereka akan mengikuti keburukan. Namun saat mereka melihat keteladanan positif dari orang-orang kuat dan pejuang dakwah, itu pun akan mempengaruhi kehidupannya. Dan di sinilah letak pentingnya keteladanan.
saya Melihat
Peluang-peluang kita dari yang terkecil yaitu
Ketua RT/RW
Ketua PKK
Ketua Karang Taruna
dan sebagainya...
Kita harus masuk kedalam ruang-ruang itu
kita warnai dengan nilai-nilai Islam
ini adalah bagian dari dakwah kita
Kita berikan keteladanan disana
warna Islam yang Rahmat bagi Semesta Alam
ini juga berlaku pada profesi yang kita jalani
jadilah teladan dalam kebaikan.
Begitupula dalam Rumah Tangga kita
kita harus meanampilkan Rumah Tangga Islam
yang menjadi panutan lingkungan sekitar kita
Maka seorang Kader Dakwah
apa yang melekat pada dirinya
adalah Keteladanan
kita bercermin pada sejarah
bahwa
Dai-dai Islam, seperti Hasan Al-Banna, Abul A'la Al-Maududi, dan tokoh-tokoh lain serta gerakan-gerakan Islam telah memberikan keteladanannya dalam jalan dakwah, dan hasilnya bisa dirasakan umat ini.
Meneladani jejak Rasulullah SAW,inilah yang seharusnya dilakukan setiap kader dan jama'ah dakwah menjadi teladan bagi mad'u-nya, menjadi teladan bagi umat yang didakwahinya.
nah kerja-kerja kita
dalam dakwah ini
adalah terus menerus untuk Indonesia Baru
dan kejayaan Umat Islam ini.
Maka Teruslah bergerak kawan
jadilah Teladan.....
Daulah dan khilafah itu haruslah islamiyah, dengan segala makna yang ada pada kata Islam. Itu berarti sebuah tata dunia baru yang rahmatan lil 'alamin. Itu berarti peradaban yang kuat untuk mempertahankan eksistensinya dari segala upaya destruktif yang hendak menghancurkannya. Karenanya, ia harus dibangun dari individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintahan yang sehat, kokoh dan tangguh.
Berangkat dari pemikiran inilah, maka qudwah (teladan) di jalan dakwah menjadi sangat urgen. Untuk peletakan pondasi itu kita membutuhkan individu muslim teladan, rumah tangga muslim teladan dan masyarakat muslim teladan sehingga pemerintahan Islam teladan berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh, kemudian meluas di level seluruh umat Islam. Setelah itu, berdirilah pemerintahan-pemerintahan Islam yang bersedia masuk dalam perdamaian dengan pemerintahan Islam lain seperti dirinya dalam rangka membentuk Daulah Islamiyah.
Syaikh Musthafa Masyhur juga menjelaskan berbagai profesi agar menjadi teladan. Diantaranya adalah guru/dosen muslim teladan, wartawan muslim teladan, penulis muslim teladan, dokter muslim teladan, praktisi hukum muslim teladan, pedagang teladan, dan karyawan teladan.
Sebelum menjelaskan karakter-karakter teladan pada tiap subyek di atas, Syaikh Musthafa Masyhur mengawali dalam bukunya dengan "teori keteladanan." Bahwa manusia yang diberi nikmat indra dan akal oleh Allah SWT bisa mendapatkan petunjuk dan keteladanan. Dan, umunya setiap dakwah dan seruan akan lebih efektif ketika ada keteladanan aplikatif. (qudwah amaliyah).
Teori lain yang ditulis di awal itu adalah kebiasaan orang lemah meniru orang kuat. Teori ini sejalan dengan teorinya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Sepeti anak kecil yang meniru orang dewasa, demikianlah orang yang lemah pendirian akan meniru orang-orang kuat; sama halnya negara-negara lemah dan terjajah meniru negara-negara besar dan maju. Ketika yang dapat ditangkap oleh orang-orang berjiwa lemah itu adalah keburukan saja, maka mereka akan mengikuti keburukan. Namun saat mereka melihat keteladanan positif dari orang-orang kuat dan pejuang dakwah, itu pun akan mempengaruhi kehidupannya. Dan di sinilah letak pentingnya keteladanan.
saya Melihat
Peluang-peluang kita dari yang terkecil yaitu
Ketua RT/RW
Ketua PKK
Ketua Karang Taruna
dan sebagainya...
Kita harus masuk kedalam ruang-ruang itu
kita warnai dengan nilai-nilai Islam
ini adalah bagian dari dakwah kita
Kita berikan keteladanan disana
warna Islam yang Rahmat bagi Semesta Alam
ini juga berlaku pada profesi yang kita jalani
jadilah teladan dalam kebaikan.
Begitupula dalam Rumah Tangga kita
kita harus meanampilkan Rumah Tangga Islam
yang menjadi panutan lingkungan sekitar kita
Maka seorang Kader Dakwah
apa yang melekat pada dirinya
adalah Keteladanan
kita bercermin pada sejarah
bahwa
Dai-dai Islam, seperti Hasan Al-Banna, Abul A'la Al-Maududi, dan tokoh-tokoh lain serta gerakan-gerakan Islam telah memberikan keteladanannya dalam jalan dakwah, dan hasilnya bisa dirasakan umat ini.
Meneladani jejak Rasulullah SAW,inilah yang seharusnya dilakukan setiap kader dan jama'ah dakwah menjadi teladan bagi mad'u-nya, menjadi teladan bagi umat yang didakwahinya.
nah kerja-kerja kita
dalam dakwah ini
adalah terus menerus untuk Indonesia Baru
dan kejayaan Umat Islam ini.
Maka Teruslah bergerak kawan
jadilah Teladan.....
Karena ku CINTA maka ku RINDU
Tak ada Cinta tanpa pertemuan Fisik
karena pada pertemuan fisik lah
getar-getar cinta
menemukan peraduannya
menemukan kenyamanannya
disinilah Islam
mengatakan
Jika Kau Jatuh Cinta
Menikahlah...
Karena Menikah adalah jalan
penumbuhan Cinta itu
selain jalan itu HARAM...
TERLARANG
tanpa menikah
cinta itu hanya ada di alam bathinmu
mencintai seseorang dari kejauhan
melayang-layang di alam pikiran
bahkan ini bisa membuatmu
jatuh sakit
atau jatuh kepada maksiat
jika iman tidak membingkai dirimu
Maka mudahkanlah Pernikahan
karena ia adalah sarana penyelamatan jiwa
Bukan zamannya lagi menikah ketika lulus kuliah
atau ketika sudah memiliki pekerjaan mapan
bukan zamannya lagi
Menikah adalah saat ini
saat kau Jatuh Cinta
dan dirimu sadar
hanya Menikahlah sarana penyelamatan itu
Maka wahai Para Orang Tua...!!
Jangan Kau larang anak-anakmu
melakukan Ibadah ini
dengan alasan duniawi
karena engkau akan menyeret mereka ke neraka
Nikahi anakmu
saat ia mengatakan ingin menikah....
Sungguh kita harus menutup Pintu zina serapat-rapatnya...
dan membuka Pintu Pernikahan selebar-lebarnya...
Karena Hanya Kebaikan...
Kebaikan...
Kebaikan...
yang kita temui pada orang-orang yang menikah...
Menikah adalah kebaikan
kecuali orang-orang yang terganggu nalarnya..
menganggapnya sebagai keburukan
di jejak-jejak usia kita
umur memiliki nilai..
dan menikah membuat kita memiliki nilai
yang mengantarkan kita ke surga...
Sahabat
Katakan Pada Ayah bundamu
"duhai ayah...
"duhai bunda....
"Karena Ku Cinta Maka Ku Rindu..."
"dan hanya Menikahlah Jalan Halal Melabuhkan rindu ini..."
"Izinkan ananda menikah ...."!!
Agar tak kita lihat lagi
wanita-wanita berjilbab
tapi berstatus pacaran...
Agar tak kita lihat lagi
Laki-laki Aktivis Dakwah
tapi berstatus Pacaran...
Yang Merusak Indah nya Cinta dalam Islam
karena pada pertemuan fisik lah
getar-getar cinta
menemukan peraduannya
menemukan kenyamanannya
disinilah Islam
mengatakan
Jika Kau Jatuh Cinta
Menikahlah...
Karena Menikah adalah jalan
penumbuhan Cinta itu
selain jalan itu HARAM...
TERLARANG
tanpa menikah
cinta itu hanya ada di alam bathinmu
mencintai seseorang dari kejauhan
melayang-layang di alam pikiran
bahkan ini bisa membuatmu
jatuh sakit
atau jatuh kepada maksiat
jika iman tidak membingkai dirimu
Maka mudahkanlah Pernikahan
karena ia adalah sarana penyelamatan jiwa
Bukan zamannya lagi menikah ketika lulus kuliah
atau ketika sudah memiliki pekerjaan mapan
bukan zamannya lagi
Menikah adalah saat ini
saat kau Jatuh Cinta
dan dirimu sadar
hanya Menikahlah sarana penyelamatan itu
Maka wahai Para Orang Tua...!!
Jangan Kau larang anak-anakmu
melakukan Ibadah ini
dengan alasan duniawi
karena engkau akan menyeret mereka ke neraka
Nikahi anakmu
saat ia mengatakan ingin menikah....
Sungguh kita harus menutup Pintu zina serapat-rapatnya...
dan membuka Pintu Pernikahan selebar-lebarnya...
Karena Hanya Kebaikan...
Kebaikan...
Kebaikan...
yang kita temui pada orang-orang yang menikah...
Menikah adalah kebaikan
kecuali orang-orang yang terganggu nalarnya..
menganggapnya sebagai keburukan
di jejak-jejak usia kita
umur memiliki nilai..
dan menikah membuat kita memiliki nilai
yang mengantarkan kita ke surga...
Sahabat
Katakan Pada Ayah bundamu
"duhai ayah...
"duhai bunda....
"Karena Ku Cinta Maka Ku Rindu..."
"dan hanya Menikahlah Jalan Halal Melabuhkan rindu ini..."
"Izinkan ananda menikah ...."!!
Agar tak kita lihat lagi
wanita-wanita berjilbab
tapi berstatus pacaran...
Agar tak kita lihat lagi
Laki-laki Aktivis Dakwah
tapi berstatus Pacaran...
Yang Merusak Indah nya Cinta dalam Islam
Cinta Para Pejuang
Aku tak ingin sibuk dengan Cinta,
aku hanya ingin sibuk bagaimana aku
bisa meninggikan kalimat Rabb ku,
karena ku yakin Alloh Maha Melihat,
dia akan memberikan di penggalan episodeku,
wanita-wanita yang mendorongku untuk
menjadi lebih baik lagi....
merekalah yg kelak ku sebut belahan jiwa,
tak harus satu atau dua bisa juga empat..
Inilah tabiat Cinta Para Pejuang
Para Mujahid
Maka kenikmatan berjaga di medan pertempuran
lebih nikmat bagi seorang Khalid
dari pada malam pengantin dengan seorang gadis Perawan yang Cantik
Maka seruan Jihad lebih Indah
dari pada jima, hingga lupa mandi
dan Para Malaikatpun memandikan Jasad Mulia itu
ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw
tentang jasad yang basah...
Mereka meletakan Cinta di tangan
bukan di hati
satu tujuan agar Cinta pada Rabbnya, tak tergeserkan
Tapi...
Lihatlah.....
Demi Alloh lihatlah...!
Jika engkau menikah dengan mereka
dengan Para Pejuang itu
Sungguh hanya ada Keindahan
hanya ada Ceria
di Rumah Tanggamu
Karena Mereka tahu
bagaimana memperlakukan Istri
Karena Mereka tahu
bagaimana memperlakukan anak-anak
Maka selalu ada pelangi
maka cemburu, hanya lah upaya memekarkan Cinta
Maka sedih hanya bagian menguatkan cinta
Mereka adalah orang-orang
yang sibuk Meninggikan Kalimat Rabb nya...
Mereka pun tahu
membahagiakan Istri dan anak-anak
adalah upaya mencari keridhoanNya
Maka tema Poligami bukan hal yang tabu
bukan sesuatu yang membuat shock atau keterkejutan semua pihak..
Karena Mereka
menumbuhkan
menjaga
merawat
Cinta
di Langit Istri-istrinya
di relung - relung jiwa anak-anaknya
Hingga ketika Ummu Salamah
ketika ditanya mengapa jika Rasulullah saw, bertemu aisyah
beliau selalu memeluk dan menciumnya...
tapi pada istri-istri yang lain tidak
Tahu apa Jawaban Ummu Salamah?
Karena Nabi saw, tak bisa menahan diri ketika ketemu 'aisyah...
Lihatlah tak ada CEMBURU
Beginilah para Pejuang
mengambil teladan dalam Cinta
Cinta itu tak membuat kita menjadi lemah
tapi menguatkan
agar pelangi selalu ada di hati para Pejuang
Para Mujahid Dakwah....
aku hanya ingin sibuk bagaimana aku
bisa meninggikan kalimat Rabb ku,
karena ku yakin Alloh Maha Melihat,
dia akan memberikan di penggalan episodeku,
wanita-wanita yang mendorongku untuk
menjadi lebih baik lagi....
merekalah yg kelak ku sebut belahan jiwa,
tak harus satu atau dua bisa juga empat..
Inilah tabiat Cinta Para Pejuang
Para Mujahid
Maka kenikmatan berjaga di medan pertempuran
lebih nikmat bagi seorang Khalid
dari pada malam pengantin dengan seorang gadis Perawan yang Cantik
Maka seruan Jihad lebih Indah
dari pada jima, hingga lupa mandi
dan Para Malaikatpun memandikan Jasad Mulia itu
ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw
tentang jasad yang basah...
Mereka meletakan Cinta di tangan
bukan di hati
satu tujuan agar Cinta pada Rabbnya, tak tergeserkan
Tapi...
Lihatlah.....
Demi Alloh lihatlah...!
Jika engkau menikah dengan mereka
dengan Para Pejuang itu
Sungguh hanya ada Keindahan
hanya ada Ceria
di Rumah Tanggamu
Karena Mereka tahu
bagaimana memperlakukan Istri
Karena Mereka tahu
bagaimana memperlakukan anak-anak
Maka selalu ada pelangi
maka cemburu, hanya lah upaya memekarkan Cinta
Maka sedih hanya bagian menguatkan cinta
Mereka adalah orang-orang
yang sibuk Meninggikan Kalimat Rabb nya...
Mereka pun tahu
membahagiakan Istri dan anak-anak
adalah upaya mencari keridhoanNya
Maka tema Poligami bukan hal yang tabu
bukan sesuatu yang membuat shock atau keterkejutan semua pihak..
Karena Mereka
menumbuhkan
menjaga
merawat
Cinta
di Langit Istri-istrinya
di relung - relung jiwa anak-anaknya
Hingga ketika Ummu Salamah
ketika ditanya mengapa jika Rasulullah saw, bertemu aisyah
beliau selalu memeluk dan menciumnya...
tapi pada istri-istri yang lain tidak
Tahu apa Jawaban Ummu Salamah?
Karena Nabi saw, tak bisa menahan diri ketika ketemu 'aisyah...
Lihatlah tak ada CEMBURU
Beginilah para Pejuang
mengambil teladan dalam Cinta
Cinta itu tak membuat kita menjadi lemah
tapi menguatkan
agar pelangi selalu ada di hati para Pejuang
Para Mujahid Dakwah....
Titip Rinduku Padamu Cinta
Saya tidak ingin mengajari antum
tekhnik atau ketrampilan Mencintai Belahan Jiwa kita..
Saya hanya ingin memberitahukan
perbedaan Jiwa-jiwa kuat
dan Jiwa-jiwa lemah
Jiwa-jiwa kuat, akan selalu mampu memproduksi
semangat penumbuhan
semangat penjagaan
semangat pertanggung jawaban
terhadap orang yang di cintainya...
Inilah yang dimaksud dengan
TINDAKAN
Sebab Cinta bukan kata-kata
bukan sekedar rayuan pemanis
tapi Cinta adalah Kerja-kerja kita
Hingga Bergelora lah
Cinta terus menerus
Disinilah Suami harus Sadar
Ketika Akad Nikah
laki-laki harus sadar
ada Amanat Alloh yang akan di pertanggung jawabkan
Amanat Langit
pada diri Istrinya
Maka tak boleh ada aniyaya
Maka tak boleh ada Kezaliman
Maka Tak boleh ada air mata
Iya....
Karena Istrimu...!!
Telah Memberikan Kehormatannya Padamu...!!
memberikan semuanya
memberikan kenikmatan surgawi
Maka sungguh tak tahu malu
jika suami tak tahu diri
dan berterima kasih....
dengan melakukan kezaliman terhadap Istrinya
Yang Paling baik adalah yang paling baik terhadap Istrinya....
Inilah perkataan Nabi saw
petunjuk bagi para Lelaki.
Maka bercerminlah
berapa banyak hak istri yang kau sia-siakan
Maka Hitunglah
berapa banyak air mata istri yang tumpa
akibat egoismu
Maka hisablah dirimu
karena kita tak tahu apakah esok pagi kita melihat matahari...
Harus ada Kesadaran
Harus ada Malu....!!
Minta maaflah pada Istrimu
Menangislah di depannya
Mengakulah atas salahmu
karena sesungguhnya jiwa istri-istri kita
selembut sutra
ikhlas memaafkan suaminya
Inilah Jiwa-jiwa kuat
kerja-kerjanya
bukan jiwa-jiwa lemah....
yang mencintai dirinya saja tidak bisa
yang melakukan kemaksiatan...
yang tak sayang pada dirinya sendiri
maka jiwa lemah ini selamanya tak akan mampu mencintai....
sahabatku
temui istrimu
katakan padanya
"aku Rindu padamu Cinta...
"Maafkan diriku selama ini ya..."
Suami Sholeh adalah suami yang mau mengakui kesalahannya
dan memperbaiki dirinya.......
tekhnik atau ketrampilan Mencintai Belahan Jiwa kita..
Saya hanya ingin memberitahukan
perbedaan Jiwa-jiwa kuat
dan Jiwa-jiwa lemah
Jiwa-jiwa kuat, akan selalu mampu memproduksi
semangat penumbuhan
semangat penjagaan
semangat pertanggung jawaban
terhadap orang yang di cintainya...
Inilah yang dimaksud dengan
TINDAKAN
Sebab Cinta bukan kata-kata
bukan sekedar rayuan pemanis
tapi Cinta adalah Kerja-kerja kita
Hingga Bergelora lah
Cinta terus menerus
Disinilah Suami harus Sadar
Ketika Akad Nikah
laki-laki harus sadar
ada Amanat Alloh yang akan di pertanggung jawabkan
Amanat Langit
pada diri Istrinya
Maka tak boleh ada aniyaya
Maka tak boleh ada Kezaliman
Maka Tak boleh ada air mata
Iya....
Karena Istrimu...!!
Telah Memberikan Kehormatannya Padamu...!!
memberikan semuanya
memberikan kenikmatan surgawi
Maka sungguh tak tahu malu
jika suami tak tahu diri
dan berterima kasih....
dengan melakukan kezaliman terhadap Istrinya
Yang Paling baik adalah yang paling baik terhadap Istrinya....
Inilah perkataan Nabi saw
petunjuk bagi para Lelaki.
Maka bercerminlah
berapa banyak hak istri yang kau sia-siakan
Maka Hitunglah
berapa banyak air mata istri yang tumpa
akibat egoismu
Maka hisablah dirimu
karena kita tak tahu apakah esok pagi kita melihat matahari...
Harus ada Kesadaran
Harus ada Malu....!!
Minta maaflah pada Istrimu
Menangislah di depannya
Mengakulah atas salahmu
karena sesungguhnya jiwa istri-istri kita
selembut sutra
ikhlas memaafkan suaminya
Inilah Jiwa-jiwa kuat
kerja-kerjanya
bukan jiwa-jiwa lemah....
yang mencintai dirinya saja tidak bisa
yang melakukan kemaksiatan...
yang tak sayang pada dirinya sendiri
maka jiwa lemah ini selamanya tak akan mampu mencintai....
sahabatku
temui istrimu
katakan padanya
"aku Rindu padamu Cinta...
"Maafkan diriku selama ini ya..."
Suami Sholeh adalah suami yang mau mengakui kesalahannya
dan memperbaiki dirinya.......
Buya Hamka...."Cahaya Yang Hilang"
Yang membuat saya takjub dari beliau adalah
selain Ulama
beliau juga seorang Satrawan
Novel-novelnya
adalah bukti nyata
betapa kuatnya kecintaan beliau terhadap sastra
Beliau adalah satu dari sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).
Sosok Buya Hamka sudah tak asing di Indonesia. Ia adalah tokoh dan panutan umat yang sangat disegani. Ulama asal Maninjau (Sumatra Barat) ini, bahkan terkenal hingga negara-negara di kawasan Asia, bahkan Timur Tengah. Namanya melambung tinggi, berkat karyanya yang sangat fenomenal, yakni Tafsir Al-Azhar, yang ditulisnya saat berada dalam penjara.
Keberhasilannya dalam menafsirkan Alquran dan ditulis saat berada di penjara, mengingatkan saya akan perjuangan Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran yang kemudian diberi nama Fi Zhilal Al-Qur'an (Di bawah Lindungan Alquran).
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, demikian nama akronim dari singkatan Hamka. Nama Buya adalah panggilan khas Minangkabau atau Minang untuk orang tua yang bermakna Ayah (Abu, Abi, Abuya).
Ensiklopedi Islam menyebutkan, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun.
Namun, bakat yang dimilikinya dalam bidang bahasa, membuat Hamka dengan cepat bisa menguasai bahasa Arab, dan ini mengantarkannya mampu membaca secara luas literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.
Sebagai seorang anak tokoh pergerakan, sejak kanak-kanak Hamka sudah menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembaharuan dan gerakannya melalui ayah dan rekan-rekan ayahnya. Ayah Hamka adalah H Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pelopor gerakan Islam 'Kaum Muda' di Minangkabau.
Sejak usia muda, Hamka sudah dikenal sebagai seorang pengelana. Sang ayah bahkan menjulukinya 'Si Bujang Jauh'. Pada 1942, dalam usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk menimba pelajaran tentang gerakan Islam modern melalui H Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin yang mengadakan kursus-kursus pergerakan di Gedung Abdi Dharmo di Pakualaman, Yogyakarta.
Setelah beberapa lama menetap di Yogyakarta, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Pada bulan Juli ia kembali ke Padangpanjang dan turut mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padangpanjang. Sejak itulah ia mulai berkiprah dalam organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.
Tegas dan Kritis
Ketokohannya dalam bidang ilmu agama, menempatkannya sebagai sosok ulama yang hebat. Julukannya telah diakui banyak kalangan. Apalagi dengan tafsirnya yang berjudul Tafsir Al-Azhar, merupakan fenomena yang mengagumkan, mengingat sedikit sekali ulama Indonesia yang mampu menafsirkan Alquran hingga tuntas. Bahkan, hingga saat ini, sangat sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir. Di antara mereka adalah Buya Hamka, Mahmud Yunus, dan Qurais Shihab.
Buya Hamka, dikenal sebagai sosok ulama yang kritis dan teguh pendirian. Ia bahkan beberapa kali terlibat perdebatan, mulai dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga pemerintah Orde Lama. Hal itu dilakukannya demi memperjuangkan dakwah Islam.
Sikap tegasnya ini juga ditunjukkannya manakala pada 1975 ia diberi kepercayaan oleh Menteri Agama, Prof Dr H Mukti Ali, untuk duduk menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, akhirnya, jabatan itu tak bertahan lama, Buya Hamka melepaskan jabatannya tersebut.
Saat itu, sebagai Ketua MUI, Buya Hamka berkeinginan untuk menjadikan organisasi ulama itu sebagai organisasi yang independen, tanpa pengaruh dari pihak manapun. Kantor sekretariat yang sebelumnya berada di Masjid Istiqlal dipindahkan ke Masjid Al-Azhar.
Fatwa Haram
Usaha Hamka untuk membuat independen lembaga MUI mulai terasa ketika pada awal 1980 lembaga ini berani melawan arus dengan mengeluarkan fatwa mengenai persoalan perayaan Natal bersama. Saat itu Hamka menyatakan haram bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu. Keberadaan fatwa tersebut kontan saja membuat geger publik.
Terlebih lagi pada waktu itu arus kebijakan pemerintah tengah mendengungkan isu toleransi. Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan Natal bersama. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal, mereka dianggap kaum fundamentalis dan anti-Pancasila.
Keadaan itu kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Risikonya Hamka pun mendapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pendapat di media massa yang menyatakan bahwa fatwa tersebut akan mengancam persatuan negara. Melalui sebuah tulisan yang dimuat di majalah Panjimas, Hamka berupaya mempertahankan fatwa haram merayakan Natal bersama bagi umat Islam yang dikeluarkannya.
Hamka tetap berpendirian teguh dan tidak akan mencabut fatwa Natal tersebut. Karena itu, daripada mencabut fatwa yang menurutnya jelas-jelas benar, akhirnya Hamka lebih memilih untuk meletakkan jabatannya setelah ada desakan dari pemerintah. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia, tepatnya pada 24 Juli 1981.
Oleh sejumlah kalangan, sikap tegas Hamka ketika memimpin MUI merupakan cerminan dari pribadinya. Bahkan, banyak pihak yang mengatakan sepeninggal Hamka, Fatwa MUI terasa menjadi tidak lagi menggigit. Bahkan di masa Orde Baru, posisi lembaga ini terkesan hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah terhadap umat Islam belaka.
Penulis Aktif
Di tengah kesibukannya mengurusi umat, Buya Hamka masih sempat menulis sejumlah buku. Mulai dari Novel, Sejarah Islam, hingga tafsir Alquran. Namanya dikenal luas berkat karya-karyanya. Kecintaannya terhadap dunia menulis ini dimulai ketika ia memutuskan memasuki dunia jurnalistik pada akhir 1925. Saat itu ia mengirim artikel ke harian Hindia Baru, yang dieditori oleh Haji Agus Salim, seorang pemimpin politik Islam. Sekembalinya ke Padangpanjang, Hamka mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah.
Sejak saat itu, dia mulai rajin menulis karya-karya sastra. Bukunya yang pertama merupakan sebuah novel Minangkabau berjudul Si Sabariah, terbit pada 1925. Dia secara teratur mengirimkan artikel ke jurnal-jurnal lokal dan menerbitkan buku kecil mengenai adat Minangkabau dan sejarah Islam. Pada 1936, dia menerima tawaran menjadi editor kepala pada sebuah jurnal Islam baru di Medan, Pedoman Masyarakat. Ketika dia menjabat sebagai editor, jurnal ini menjadi salah satu yang paling sukses dalam sejarah jurnalisme Islam di Indonesia.
Dalam kehidupan Hamka, masa-masa ketika tinggal di Medan (1936-1945) merupakan tahun-tahun paling produktif. Selama periode ini dia menulis dan memublikasikan sebagian besar novelnya.
Di antaranya Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1937), Merantau ke Deli (1940), dan Di Dalam Lembah Kehidupan (1940). Dia juga menulis buku-buku mengenai etika Islam dan tasawuf, seperti Tasawuf Modern (1939), Lembaga Budi (1939), dan Falsafah Hidup (1940). Pada 1949, ia menerbitkan biografi orang tuanya dengan judul Ayahku, yang juga memaparkan sejarah gerakan Islam di Sumatra, di samping memoar empat jilid berjudul Kenang-Kenangan Hidup dan jilid pertama Sejarah Umat Islam.
Pada 1950, ia mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Dalam kesempatan ini ia bertemu dengan pengarang-pengarang Mesir yang telah lama dikenalnya lewat karya-karya mereka, seperti Taha Husein dan Fikri Abadah. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.
Bersama dengan KH Fakih Usman (menteri agama dalam Kabinet Wilopo 1952), pada Juli 1959, ia menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat. Majalah ini menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini kemudian dibreidel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr Muhammad Hatta berjudul 'Demokrasi Kita', yang isinya mengkritik tajam konsep Demokrasi Terpimpin.
Majalah ini baru terbit kembali setelah Orde Lama tumbang, tepatnya pada 1967. Hamka sendiri dipercaya sebagai pimpinan umum majalah Panji Masyarakat hingga akhir hayatnya.
Hobi menulis ini tetap ditekuninya manakala ia berada di balik terali besi penjara. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.
Hamka meninggalkan karya yang sangat banyak; di antaranya yang sudah dibukukan tercatat lebih kurang 118 buah, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Tulisan-tulisan itu meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman.
Ketokohan Hamka tak hanya di Indonesia, tapi hingga mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diperolehnya. Seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk dan Pengeran Wiroguno dari Pemerintah Indonesia.
Sementara itu, dalam bidang politik, Buya Hamka sempat menduduki jabatan sebagai angota Konstituante (Parlemen) saat pemerintahan Orde Lama yang dipimpin Soekarno dari Masyumi.
Karya-Karya Hamka
1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2. Si Sabariah. (1928)
3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq), 1929.
4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7. Hikmat Isra' dan Mikraj.
8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10. Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.
11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12. Mati Mengandung Malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13. Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18. Tuan Direktur 1939.
19. Dijemput mamaknya, 1939.
20. Keadilan Ilahy 1939.
21. Tashawwuf Modern 1939.
22. Falsafah Hidup 1939.
23. Lembaga Hidup 1940.
24. Lembaga Budi 1940.
25. Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepang 1943).
26. Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27. Negara Islam (1946).
28. Islam dan Demokrasi, 1946.
29. Revolusi Pikiran, 1946.
30. Revolusi Agama, 1946.
31. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, 1946.
32. Dibantingkan Ombak Masyarakat, 1946.
33. Didalam Lembah Cita-cita,1946.
34. Sesudah Naskah Renville,1947.
35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36. Menunggu Beduk Berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.
37. Ayahku,1950 di Jakarta.
38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41. Kenangan-kenangan Hidup 1, Autobiografi sejak lahir 1908-1950.
42. Kenangan-kenangan Hidup 2.
43. Kenangan-kenangan Hidup 3.
44. Kenangan-kenangan Hidup 4.
45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50. Pribadi,1950.
51. Agama dan Perempuan,1939.
52. Muhammadiyah Melalui 3 Zaman,1946,di Padang Panjang.
53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54. Pelajaran Agama Islam,1956.
55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56. Empat Bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57. Empat Bulan di Amerika Jilid 2.
58. Pengaruh Ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), untuk gelar Doktor Honoris Causa.
59. Soal Jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69. Cita-cita Kenegaraan dalam Ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71. Himpunan Khutbah-khutbah.
72. Urat Tunggang Pancasila.
73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74. Sejarah Islam di Sumatera.
75. Bohong di Dunia.
76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
78. Kedudukan Perempuan dalam Islam,1973.
79. Tafsir Al-Azhar 30 Juz, ditulis saat berada di penjara.
Bayangkan betapa banyak rekam jejak beliau dalam karya
yang saat ini bisa kita nikmati
Buya HAMKA
adalah salah satu anak negeri
yang lahir
dan mencatat sejarahnya
dengan tinta emas
semoga lahir kembali
Buya HAMKA-Buya HAMKA baru....
Terus bergerak kawan....
selain Ulama
beliau juga seorang Satrawan
Novel-novelnya
adalah bukti nyata
betapa kuatnya kecintaan beliau terhadap sastra
Beliau adalah satu dari sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).
Sosok Buya Hamka sudah tak asing di Indonesia. Ia adalah tokoh dan panutan umat yang sangat disegani. Ulama asal Maninjau (Sumatra Barat) ini, bahkan terkenal hingga negara-negara di kawasan Asia, bahkan Timur Tengah. Namanya melambung tinggi, berkat karyanya yang sangat fenomenal, yakni Tafsir Al-Azhar, yang ditulisnya saat berada dalam penjara.
Keberhasilannya dalam menafsirkan Alquran dan ditulis saat berada di penjara, mengingatkan saya akan perjuangan Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran yang kemudian diberi nama Fi Zhilal Al-Qur'an (Di bawah Lindungan Alquran).
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, demikian nama akronim dari singkatan Hamka. Nama Buya adalah panggilan khas Minangkabau atau Minang untuk orang tua yang bermakna Ayah (Abu, Abi, Abuya).
Ensiklopedi Islam menyebutkan, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun.
Namun, bakat yang dimilikinya dalam bidang bahasa, membuat Hamka dengan cepat bisa menguasai bahasa Arab, dan ini mengantarkannya mampu membaca secara luas literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.
Sebagai seorang anak tokoh pergerakan, sejak kanak-kanak Hamka sudah menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembaharuan dan gerakannya melalui ayah dan rekan-rekan ayahnya. Ayah Hamka adalah H Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pelopor gerakan Islam 'Kaum Muda' di Minangkabau.
Sejak usia muda, Hamka sudah dikenal sebagai seorang pengelana. Sang ayah bahkan menjulukinya 'Si Bujang Jauh'. Pada 1942, dalam usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk menimba pelajaran tentang gerakan Islam modern melalui H Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin yang mengadakan kursus-kursus pergerakan di Gedung Abdi Dharmo di Pakualaman, Yogyakarta.
Setelah beberapa lama menetap di Yogyakarta, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Pada bulan Juli ia kembali ke Padangpanjang dan turut mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padangpanjang. Sejak itulah ia mulai berkiprah dalam organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.
Tegas dan Kritis
Ketokohannya dalam bidang ilmu agama, menempatkannya sebagai sosok ulama yang hebat. Julukannya telah diakui banyak kalangan. Apalagi dengan tafsirnya yang berjudul Tafsir Al-Azhar, merupakan fenomena yang mengagumkan, mengingat sedikit sekali ulama Indonesia yang mampu menafsirkan Alquran hingga tuntas. Bahkan, hingga saat ini, sangat sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir. Di antara mereka adalah Buya Hamka, Mahmud Yunus, dan Qurais Shihab.
Buya Hamka, dikenal sebagai sosok ulama yang kritis dan teguh pendirian. Ia bahkan beberapa kali terlibat perdebatan, mulai dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga pemerintah Orde Lama. Hal itu dilakukannya demi memperjuangkan dakwah Islam.
Sikap tegasnya ini juga ditunjukkannya manakala pada 1975 ia diberi kepercayaan oleh Menteri Agama, Prof Dr H Mukti Ali, untuk duduk menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, akhirnya, jabatan itu tak bertahan lama, Buya Hamka melepaskan jabatannya tersebut.
Saat itu, sebagai Ketua MUI, Buya Hamka berkeinginan untuk menjadikan organisasi ulama itu sebagai organisasi yang independen, tanpa pengaruh dari pihak manapun. Kantor sekretariat yang sebelumnya berada di Masjid Istiqlal dipindahkan ke Masjid Al-Azhar.
Fatwa Haram
Usaha Hamka untuk membuat independen lembaga MUI mulai terasa ketika pada awal 1980 lembaga ini berani melawan arus dengan mengeluarkan fatwa mengenai persoalan perayaan Natal bersama. Saat itu Hamka menyatakan haram bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu. Keberadaan fatwa tersebut kontan saja membuat geger publik.
Terlebih lagi pada waktu itu arus kebijakan pemerintah tengah mendengungkan isu toleransi. Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan Natal bersama. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal, mereka dianggap kaum fundamentalis dan anti-Pancasila.
Keadaan itu kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Risikonya Hamka pun mendapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pendapat di media massa yang menyatakan bahwa fatwa tersebut akan mengancam persatuan negara. Melalui sebuah tulisan yang dimuat di majalah Panjimas, Hamka berupaya mempertahankan fatwa haram merayakan Natal bersama bagi umat Islam yang dikeluarkannya.
Hamka tetap berpendirian teguh dan tidak akan mencabut fatwa Natal tersebut. Karena itu, daripada mencabut fatwa yang menurutnya jelas-jelas benar, akhirnya Hamka lebih memilih untuk meletakkan jabatannya setelah ada desakan dari pemerintah. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia, tepatnya pada 24 Juli 1981.
Oleh sejumlah kalangan, sikap tegas Hamka ketika memimpin MUI merupakan cerminan dari pribadinya. Bahkan, banyak pihak yang mengatakan sepeninggal Hamka, Fatwa MUI terasa menjadi tidak lagi menggigit. Bahkan di masa Orde Baru, posisi lembaga ini terkesan hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah terhadap umat Islam belaka.
Penulis Aktif
Di tengah kesibukannya mengurusi umat, Buya Hamka masih sempat menulis sejumlah buku. Mulai dari Novel, Sejarah Islam, hingga tafsir Alquran. Namanya dikenal luas berkat karya-karyanya. Kecintaannya terhadap dunia menulis ini dimulai ketika ia memutuskan memasuki dunia jurnalistik pada akhir 1925. Saat itu ia mengirim artikel ke harian Hindia Baru, yang dieditori oleh Haji Agus Salim, seorang pemimpin politik Islam. Sekembalinya ke Padangpanjang, Hamka mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah.
Sejak saat itu, dia mulai rajin menulis karya-karya sastra. Bukunya yang pertama merupakan sebuah novel Minangkabau berjudul Si Sabariah, terbit pada 1925. Dia secara teratur mengirimkan artikel ke jurnal-jurnal lokal dan menerbitkan buku kecil mengenai adat Minangkabau dan sejarah Islam. Pada 1936, dia menerima tawaran menjadi editor kepala pada sebuah jurnal Islam baru di Medan, Pedoman Masyarakat. Ketika dia menjabat sebagai editor, jurnal ini menjadi salah satu yang paling sukses dalam sejarah jurnalisme Islam di Indonesia.
Dalam kehidupan Hamka, masa-masa ketika tinggal di Medan (1936-1945) merupakan tahun-tahun paling produktif. Selama periode ini dia menulis dan memublikasikan sebagian besar novelnya.
Di antaranya Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1937), Merantau ke Deli (1940), dan Di Dalam Lembah Kehidupan (1940). Dia juga menulis buku-buku mengenai etika Islam dan tasawuf, seperti Tasawuf Modern (1939), Lembaga Budi (1939), dan Falsafah Hidup (1940). Pada 1949, ia menerbitkan biografi orang tuanya dengan judul Ayahku, yang juga memaparkan sejarah gerakan Islam di Sumatra, di samping memoar empat jilid berjudul Kenang-Kenangan Hidup dan jilid pertama Sejarah Umat Islam.
Pada 1950, ia mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Dalam kesempatan ini ia bertemu dengan pengarang-pengarang Mesir yang telah lama dikenalnya lewat karya-karya mereka, seperti Taha Husein dan Fikri Abadah. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.
Bersama dengan KH Fakih Usman (menteri agama dalam Kabinet Wilopo 1952), pada Juli 1959, ia menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat. Majalah ini menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini kemudian dibreidel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr Muhammad Hatta berjudul 'Demokrasi Kita', yang isinya mengkritik tajam konsep Demokrasi Terpimpin.
Majalah ini baru terbit kembali setelah Orde Lama tumbang, tepatnya pada 1967. Hamka sendiri dipercaya sebagai pimpinan umum majalah Panji Masyarakat hingga akhir hayatnya.
Hobi menulis ini tetap ditekuninya manakala ia berada di balik terali besi penjara. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.
Hamka meninggalkan karya yang sangat banyak; di antaranya yang sudah dibukukan tercatat lebih kurang 118 buah, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Tulisan-tulisan itu meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman.
Ketokohan Hamka tak hanya di Indonesia, tapi hingga mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diperolehnya. Seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk dan Pengeran Wiroguno dari Pemerintah Indonesia.
Sementara itu, dalam bidang politik, Buya Hamka sempat menduduki jabatan sebagai angota Konstituante (Parlemen) saat pemerintahan Orde Lama yang dipimpin Soekarno dari Masyumi.
Karya-Karya Hamka
1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2. Si Sabariah. (1928)
3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq), 1929.
4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7. Hikmat Isra' dan Mikraj.
8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10. Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.
11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12. Mati Mengandung Malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13. Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18. Tuan Direktur 1939.
19. Dijemput mamaknya, 1939.
20. Keadilan Ilahy 1939.
21. Tashawwuf Modern 1939.
22. Falsafah Hidup 1939.
23. Lembaga Hidup 1940.
24. Lembaga Budi 1940.
25. Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepang 1943).
26. Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27. Negara Islam (1946).
28. Islam dan Demokrasi, 1946.
29. Revolusi Pikiran, 1946.
30. Revolusi Agama, 1946.
31. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, 1946.
32. Dibantingkan Ombak Masyarakat, 1946.
33. Didalam Lembah Cita-cita,1946.
34. Sesudah Naskah Renville,1947.
35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36. Menunggu Beduk Berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.
37. Ayahku,1950 di Jakarta.
38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41. Kenangan-kenangan Hidup 1, Autobiografi sejak lahir 1908-1950.
42. Kenangan-kenangan Hidup 2.
43. Kenangan-kenangan Hidup 3.
44. Kenangan-kenangan Hidup 4.
45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50. Pribadi,1950.
51. Agama dan Perempuan,1939.
52. Muhammadiyah Melalui 3 Zaman,1946,di Padang Panjang.
53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54. Pelajaran Agama Islam,1956.
55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56. Empat Bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57. Empat Bulan di Amerika Jilid 2.
58. Pengaruh Ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), untuk gelar Doktor Honoris Causa.
59. Soal Jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69. Cita-cita Kenegaraan dalam Ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71. Himpunan Khutbah-khutbah.
72. Urat Tunggang Pancasila.
73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74. Sejarah Islam di Sumatera.
75. Bohong di Dunia.
76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
78. Kedudukan Perempuan dalam Islam,1973.
79. Tafsir Al-Azhar 30 Juz, ditulis saat berada di penjara.
Bayangkan betapa banyak rekam jejak beliau dalam karya
yang saat ini bisa kita nikmati
Buya HAMKA
adalah salah satu anak negeri
yang lahir
dan mencatat sejarahnya
dengan tinta emas
semoga lahir kembali
Buya HAMKA-Buya HAMKA baru....
Terus bergerak kawan....
Langganan:
Postingan (Atom)




